Liputan

Liputan

Diskusi Cagak Sastra: Upaya Menjaga Ingatan dan Keheningan Pikiran

Kegiatan Cagak Sastra yang diselenggarakan Yayasan Cagak Inti Kultura sukses menghidupkan kembali regenerasi pembaca sastra. Acara ini menghadirkan bedah buku bernuansa identitas, orasi melawan distraksi digital bersama Gus tf, hingga diskusi sastra zaman perang. Seluruh rangkaian acara menjadi ruang penting untuk merawat ingatan, empati, dan keheningan pikiran masyarakat masa kini.

Diskusi Cagak Sastra: Upaya Menjaga Ingatan dan Keheningan Pikiran Selengkapnya

Liputan

Menumpang Odong-Odong, Menelusuri Latar Sastra dalam Sitti Nurbaya

Program Telusur Sastra oleh Yayasan Cagak Inti Kultura mengajak para pembaca muda untuk menelusuri latar nyata novel legendaris Sitti Nurbaya di Kota Padang menggunakan odong-odong. Perjalanan menarik ini mengunjungi berbagai lokasi bersejarah seperti Pasar Ambacang, Alang Laweh, hingga Gunung Padang, guna memahami karya sastra serta batas antara fiksi dan fakta.

Menumpang Odong-Odong, Menelusuri Latar Sastra dalam Sitti Nurbaya Selengkapnya

Liputan

Angga, Aksi Literasi dan Nasi Kapau Itu

Andrinof A. Chaniago mengenang kepergian mendadak Airlangga Pribadi (Angga), sosok intelektual militan, akademisi rendah hati, dan pegiat literasi yang kritis. Angga adalah kawan diskusi yang berdedikasi tinggi dalam mengulas buku-buku ekonomi-politik berat. Kepergiannya meninggalkan kehilangan besar bagi dunia intelektual Indonesia serta kenangan hangat tentang janji makan nasi kapau bersama.

Angga, Aksi Literasi dan Nasi Kapau Itu Selengkapnya

Liputan

Polimatik Asrul Sani di Antara ‘Berkelana’ dan ‘Terdampar’

Pameran retrospektif Asrul Sani yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta hadir bukan sekadar sebagai upacara penghormatan, melainkan sebuah studi kuratorial yang sangat cermat. Melalui tema berkelana dan terdampar, pameran ini memosisikan sang maestro sebagai sosok polimatik, menghidupkan kembali arsip sejarahnya menjadi subjek aktif dalam percakapan budaya masyarakat kontemporer saat ini.

Polimatik Asrul Sani di Antara ‘Berkelana’ dan ‘Terdampar’ Selengkapnya

Liputan

Setelah Seabad, Membaca Kembali Asrul Sani Maestro Multi Panggung

Pameran seabad kelahiran Asrul Sani mengurai kembali jejak sang maestro dalam teater dan film Indonesia. Sebagai pendiri ATNI dan penerjemah puluhan naskah dunia, ia menanamkan fondasi keaktoran modern. Melalui karya monumental seperti Mahkamah, Asrul terus menguji batas hukum formal dan nurani kemanusiaan dalam kebudayaan nasional.

Setelah Seabad, Membaca Kembali Asrul Sani Maestro Multi Panggung Selengkapnya

Liputan

Nata Sukma Complex#: Tubuh yang Mengingat dan Sejarah yang Diperebutkan

Pertunjukan teater “Nata Sukma Complex#” karya sutradara Tatang R. Macan hadir bukan sekadar merekonstruksi sejarah kolonial, melainkan menyoroti kolonialitas—yakni logika kekuasaan dan eksploitasi yang terus hidup hingga saat ini. Melalui perpaduan gerak tubuh, bunyi, dan visual kontemporer, penonton diajak menyelami kelamnya sejarah sebagai sebuah pengalaman indrawi yang masih terus diperebutkan.

Nata Sukma Complex#: Tubuh yang Mengingat dan Sejarah yang Diperebutkan Selengkapnya

Liputan

Si Bunian Palembayan: Menari untuk Hutan yang Tak Lagi Ada

Pertunjukan tari kontemporer “Si Bunian Palembayan” karya Joni Andra mengangkat isu kerusakan lingkungan dan alih fungsi hutan menjadi kebun sawit di Palembayan, Agam. Karya ini menafsirkan ulang mitos Urang Bunian sebagai penjaga kelestarian rimba, sekaligus kritik tajam atas bencana alam serta pengingat bagi manusia untuk kembali menjaga keseimbangan harmoni alam.

Si Bunian Palembayan: Menari untuk Hutan yang Tak Lagi Ada Selengkapnya

Scroll to Top