Esai

Esai

Kita dan Revolusi Transhumanisme

Esai ini mengeksplorasi benturan antara ambisi transhumanisme yang berupaya melampaui batasan biologis manusia melalui teknologi cerdas, dengan nilai-nilai dasar humanisme. Di tengah ancaman kesenjangan baru dan dampaknya terhadap demokrasi di Indonesia, etika humanis sangat penting untuk memastikan kemajuan teknologi masa depan tidak mengorbankan esensi kemanusiaan kita.

Kita dan Revolusi Transhumanisme Selengkapnya

Esai

Siam, Chada, dan Thanapol

Esai ini mengulas pertunjukan kontemporer “Comrade, Miracle, Curse” karya koreografer Thanapol Virulhakul di JICON 2026. Melalui eksplorasi tubuh penari, arsip visual via proyektor mekanis, serta penggunaan simbol sejarah seperti mahkota chada dan nama Siam, Thanapol secara implisit menggugat otoritas politik serta dominasi narasi sejarah bangsa Thailand.

Siam, Chada, dan Thanapol Selengkapnya

Esai

Sisi Lain Sinema India: Akar Ideologi di Balik Karakter Sinema Malayalam

Esai ini mengupas sisi lain sinema India melalui industri sinema Malayalam dari Kerala. Berbeda dengan Bollywood yang mengandalkan kemewahan dan superstar, sinema Malayalam menonjol lewat naskah kuat, realisme sosial, serta keberanian membongkar maskulinitas toksik dan budaya patriarki melalui film seperti Kumbalangi Nights dan The Great Indian Kitchen.

Sisi Lain Sinema India: Akar Ideologi di Balik Karakter Sinema Malayalam Selengkapnya

Esai

Menjawab Gugatan Etika AI Akademik di Antara Raskolnikov dan Comstock

Esai ini mengkritik pragmatisme dan budaya jalan pintas dalam penulisan artikel ilmiah akibat tekanan sistem akademik, khususnya terkait penggunaan AI Generatif. Melalui perbandingan tokoh Raskolnikov karya Dostoevsky dan Comstock karya Orwell, penulis mengajak para peneliti untuk menjaga integritas akademik, menghindari manipulasi, serta berani mendeklarasikan penggunaan AI secara etis dan transparan.

Menjawab Gugatan Etika AI Akademik di Antara Raskolnikov dan Comstock Selengkapnya

Esai

Pasan Buruang, Petatah Kaca, Alam Takambang Jadi Batu

Esai ini menyoroti krisis ekologis di Sumatra Barat akibat eksploitasi alam dan perizinan tambang yang mengabaikan hukum adat. Falsafah Minangkabau “alam takambang jadi guru” kini sekadar pajangan kaca. Terputusnya relasi manusia dengan alam tidak hanya melahirkan bencana banjir dan galodo bertubi-tubi, tetapi juga mengubur kebudayaan itu sendiri.

Pasan Buruang, Petatah Kaca, Alam Takambang Jadi Batu Selengkapnya

Esai

Bukan Gonjong yang Menjadikannya Rumah Gadang

Esai ini mengulas esensi rumah gadang yang kerap salah dipahami hanya dari bentuk fisik atap gonjongnya. Bimbi Irawan menegaskan bahwa identitas sejati rumah gadang tidak ditentukan oleh arsitektur semata, melainkan oleh fungsi sosial, budaya, dan cerminan sistem kekerabatan matrilineal yang melandasi seluruh kehidupan masyarakat adat Minangkabau secara utuh dan mendalam.

Bukan Gonjong yang Menjadikannya Rumah Gadang Selengkapnya

Esai

Meja Makan Mikir-Mikir: Melihat Jejak Revolusi pada Panci, Kuali dan Telepon Pintar

Esai ini mengulas pertunjukan “Meja Makan Mikir-Mikir” oleh Medan Teater. Melalui simbol panci, kuali, dan telepon pintar, penulis merefleksikan sejarah peradaban manusia—dari revolusi pertanian hingga era digital—serta mengkritisi dampaknya terhadap krisis ekologi, pergeseran budaya pangan, dan hilangnya makna dalam kehidupan sehari-hari.

Meja Makan Mikir-Mikir: Melihat Jejak Revolusi pada Panci, Kuali dan Telepon Pintar Selengkapnya

Esai

Pertaruhan Bunyi dalam “Saluak Sang Sako”

Esai ini mengulas karya doktoral Rozalvino, Saluak Sang Sako, yang bereksperimen mengubah logika sosial budaya Minangkabau—terutama posisi ambigu urang sumando—menjadi struktur musikal. Nurkholis menelaah apakah pertunjukan ini sukses melampaui representasi budaya belaka dan sungguh-sungguh memanifestasikan ketegangan sosial adat ke dalam prinsip penciptaan bunyi yang sepenuhnya otonom, saling merespons, dan deliberatif.

Pertaruhan Bunyi dalam “Saluak Sang Sako” Selengkapnya

Esai

Menguatkan Ekosistem dan Menjaga Nyala Api Sastra di Tengah Peradaban Dunia

Kehadiran sastra Indonesia di panggung global membutuhkan fondasi ekosistem yang kuat. Melalui kolaborasi kebijakan negara dan komunitas lokal, Kementerian Kebudayaan merumuskan lima program prioritas guna menjembatani hulu dan hilir. Langkah strategis ini memastikan narasi Nusantara tidak hanya sekadar menjadi letupan sesaat, melainkan arus besar yang berkelanjutan di kancah peradaban dunia.

Menguatkan Ekosistem dan Menjaga Nyala Api Sastra di Tengah Peradaban Dunia Selengkapnya

Scroll to Top