Esai

Esai

Pertaruhan Bunyi dalam “Saluak Sang Sako”

Esai ini mengulas karya doktoral Rozalvino, Saluak Sang Sako, yang bereksperimen mengubah logika sosial budaya Minangkabau—terutama posisi ambigu urang sumando—menjadi struktur musikal. Nurkholis menelaah apakah pertunjukan ini sukses melampaui representasi budaya belaka dan sungguh-sungguh memanifestasikan ketegangan sosial adat ke dalam prinsip penciptaan bunyi yang sepenuhnya otonom, saling merespons, dan deliberatif.

Pertaruhan Bunyi dalam “Saluak Sang Sako” Selengkapnya

Esai

Menguatkan Ekosistem dan Menjaga Nyala Api Sastra di Tengah Peradaban Dunia

Kehadiran sastra Indonesia di panggung global membutuhkan fondasi ekosistem yang kuat. Melalui kolaborasi kebijakan negara dan komunitas lokal, Kementerian Kebudayaan merumuskan lima program prioritas guna menjembatani hulu dan hilir. Langkah strategis ini memastikan narasi Nusantara tidak hanya sekadar menjadi letupan sesaat, melainkan arus besar yang berkelanjutan di kancah peradaban dunia.

Menguatkan Ekosistem dan Menjaga Nyala Api Sastra di Tengah Peradaban Dunia Selengkapnya

Esai

Dilema Rasa di Tanah Rantau: Tarik-Menarik Orisinalitas dan Pasar Nasi Padang

Esai ini membahas dilema kuliner Nasi Padang di perantauan antara mempertahankan cita rasa autentik Minang yang gurih dan pedas, atau beradaptasi dengan selera pasar lokal yang cenderung manis demi kelangsungan bisnis. Adaptasi resep menjadi bukti bahwa Nasi Padang adalah budaya hidup yang terus berevolusi menembus batas geografis dan selera masyarakat.

Dilema Rasa di Tanah Rantau: Tarik-Menarik Orisinalitas dan Pasar Nasi Padang Selengkapnya

Esai

Film Dokumenter, Kekuasaan dan Tanah yang Tak Pernah Kosong

Esai ini menyoroti fenomena pencekalan dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang merekam hilangnya ruang hidup masyarakat adat Papua. Alih-alih membungkam, represi ini justru memicu efek Streisand yang mengamplifikasi suara mereka, sekaligus membuktikan bahwa kekuasaan masih ketakutan menghadapi kejujuran layar sinema.

Film Dokumenter, Kekuasaan dan Tanah yang Tak Pernah Kosong Selengkapnya

Esai

Membaca Tarekat Bunyi Karya Indra Ariffin: Lewat Tanpa Sadar

Esai ini mengulas “Tarekat Bunyi”, karya ujian doktor Indra Ariffin di ISI Padang Panjang. Melalui struktur tasawuf Takhalli, Tahalli, dan Tajalli, Indra mengubah pengalaman spiritual Minangkabau menjadi metode artistik bernama malalu. Pertunjukan ini tak sekadar memindahkan ritual ke panggung, melainkan merumuskan spiritualitas ke dalam eksplorasi musik dan epistemologi lokal Nusantara.

Membaca Tarekat Bunyi Karya Indra Ariffin: Lewat Tanpa Sadar Selengkapnya

Esai

Menjelajah Heboh Sastra 1968 Lewat Nazwar Sjamsu

Esai ini mengulas kontroversi “Heboh Sastra 1968” melalui perspektif Nazwar Sjamsu yang mengkritik keras pembelaan H.B. Jassin atas cerpen “Langit Makin Mendung”. Penulis membedah perbenturan antara imajinasi sastra dan kenyataan objektif agama, mengungkap ketegangan yang belum usai mengenai batas-batas penggambaran zat suci dalam karya kreatif di Indonesia.

Menjelajah Heboh Sastra 1968 Lewat Nazwar Sjamsu Selengkapnya

Esai

Obituari Iyut Fitra: Puisi Sebagai Salam

Mengenang Iyut Fitra, sosok penyair bersahaja dari Payakumbuh yang menjadikan puisi sebagai ruang silaturahmi dan penggerak komunitas seni. Melalui obituari ini, Heru Joni Putra membagikan kisah perjalanannya belajar menulis bersama Kuyut, kiprahnya di Komunitas Intro, hingga warisan abadi sang penyair dalam menghubungkan manusia, kota, dan sastra tanpa batas.

Obituari Iyut Fitra: Puisi Sebagai Salam Selengkapnya

Esai

Almarhum di Atas Kuburan

Esai “Almarhum di Atas Kuburan” karya Raudal Tanjung Banua mengulas buku puisi Zikri, “Wifi di Atas Kuburan”. Melalui strategi desakralisasi dan deprofanisasi, Zikri memadukan kesucian tradisi dengan riuhnya era digital dan kultur urban. Puisi-puisinya menghadirkan satir jenaka kritis yang menantang kemapanan teks sakral lewat parodi budaya pop pascamodern.

Almarhum di Atas Kuburan Selengkapnya

Esai

Otot dan Otak dalam Kekuasaan

Esai ini menganalisis novela satir Animal Farm karya George Orwell, dengan berfokus pada dinamika kekuasaan politik antara tokoh Snowball dan Napoleon. Melalui adu strategi antara kecerdasan intelektual dan kekuatan otot taktis, tulisan ini menunjukkan bagaimana ambisi, kendali aparatur kekerasan, serta pengkhianatan idealisme dapat menghancurkan revolusi dan menciptakan rezim amat korup.

Otot dan Otak dalam Kekuasaan Selengkapnya

Scroll to Top