Esai

Esai

AI dan Krisis Pengarang: Mampukah Budaya Literer Bertahan di Era Kecerdasan Mesin?

Ketika AI mampu menghasilkan tulisan, apa yang tersisa dari peran pengarang? Anchit Sathi menelaah hubungan antara proses kreatif, nama penulis, dan tanggung jawab melalui pemikiran Barthes dan Foucault. Esai ini mempertanyakan bagaimana budaya literer dapat bertahan ketika teks semakin mudah diproduksi, sementara keterlibatan pikiran manusia di baliknya semakin sulit dikenali.

AI dan Krisis Pengarang: Mampukah Budaya Literer Bertahan di Era Kecerdasan Mesin? Selengkapnya

Esai

Narasi Spiritual tentang Alam dan Manusia; Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan

Esai Ivan Adilla ini mengulas antologi puisi “Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan” karya Heru Joni Putra. Berbeda dari antologi satir sebelumnya, Heru menghadirkan narasi spiritual tentang keterkaitan manusia, alam, dan kesadaran diri. Puisi-puisi naratifnya merefleksikan filosofi Minangkabau melalui bahasa lugas, ironis, serta sarat perenungan mendalam.

Narasi Spiritual tentang Alam dan Manusia; Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan Selengkapnya

Esai

Menating Puitika Silek Ke dalam Sinema Laga Indonesia

Esai ini menyoroti kebuntuan naratif sinema laga Indonesia yang kerap terjebak pada realisme brutal tanpa jiwa kultural. Solusinya terletak pada puitika Silek Minang, di mana silat tidak sekadar koreografi pertarungan mekanis, melainkan filosofi gerak, kesadaran ruang, dan narasi puitis yang merekam harmoni manusia dengan alam semesta.

Menating Puitika Silek Ke dalam Sinema Laga Indonesia Selengkapnya

Esai

Manifesto Estetis ”Silampukau” Membongkar Alienasi Manusia Indonesia

Esai ini mengulas dwilogi album Stambul Arkipelagia karya Orkes Silampukau melalui kacamata mimesis Marxis. Karya ini dinilai bukan sekadar musik, melainkan manifesto estetis yang membongkar realitas pahit, alienasi manusia, ketimpangan ekonomi, fetisisme komoditas, hingga dominasi penguasa di Indonesia yang direfleksikan secara tajam lewat metafora negeri fiktif Arkipelagia.

Manifesto Estetis ”Silampukau” Membongkar Alienasi Manusia Indonesia Selengkapnya

Esai

Kesunyian Kelas Pekerja

Esai ini menyoroti fenomena hilangnya ekspresi tubuh saat kelas pekerja mendengarkan musik di transportasi umum seperti KRL. Melalui pengamatan sosiologis, penulis berargumen bahwa penggunaan earphone bukan sekadar selera atau kebebasan personal, melainkan bentuk anestesi untuk bertahan dari kelelahan sistem kapitalisme yang merampas ruang, waktu, dan tenaga pekerja kota.

Kesunyian Kelas Pekerja Selengkapnya

Esai

Taufiq Ismail dan Horison: Yang Berdiri Kokoh Bersama Cita-Cita

Esai ini mengulas sejarah 60 tahun Majalah Horison, media sastra legendaris Indonesia yang lahir tanpa modal di masa transisi Orde Lama. Tulisan ini menyoroti peranan besar Taufiq Ismail, satu-satunya pendiri yang masih hidup, beserta dedikasinya yang tak pernah padam dalam menjaga eksistensi dan cita-cita kesusastraan di Tanah Air.

Taufiq Ismail dan Horison: Yang Berdiri Kokoh Bersama Cita-Cita Selengkapnya

Esai

Kita dan Revolusi Transhumanisme

Esai ini mengeksplorasi benturan antara ambisi transhumanisme yang berupaya melampaui batasan biologis manusia melalui teknologi cerdas, dengan nilai-nilai dasar humanisme. Di tengah ancaman kesenjangan baru dan dampaknya terhadap demokrasi di Indonesia, etika humanis sangat penting untuk memastikan kemajuan teknologi masa depan tidak mengorbankan esensi kemanusiaan kita.

Kita dan Revolusi Transhumanisme Selengkapnya

Esai

Siam, Chada, dan Thanapol

Esai ini mengulas pertunjukan kontemporer “Comrade, Miracle, Curse” karya koreografer Thanapol Virulhakul di JICON 2026. Melalui eksplorasi tubuh penari, arsip visual via proyektor mekanis, serta penggunaan simbol sejarah seperti mahkota chada dan nama Siam, Thanapol secara implisit menggugat otoritas politik serta dominasi narasi sejarah bangsa Thailand.

Siam, Chada, dan Thanapol Selengkapnya

Scroll to Top